Arsip untuk Juli, 2007

16
Jul
07

BTS Misunderstanding?

People normally says “Oh, that tower is the XXX’s BTS” when they see telecommunication tower with an antenna in the top of it. In a holiday trip, kids sometime ask to their parents when they catch that high building in their eyes during the trip. “Mama, what is that?”. Their mama probably will answers like this. “Oh my dear boy, that is XXX’s BTS. Something that transmits radio signal to our cellphone so that we can get connected to the mobile system.“. “Oh mama, what is mobile system?“.. Hehe.. And the kids get more confused. The point is not that confusing kids, man. But the mommy. Yes, is she right to give that kind of answer?

I don’t think so.

Most people only know the terms BTS as a term only. A word, with some explanation like what the mommy says before. They never see what the telecom engineer thinks BTS is. The real BTS, not only the term, but also physically. Not that things that you see outside, but inside the system.

I won’t give my thoughts of the term BTS here. Mostly because I haven’t taken Cellular Communication System subject in my class (actually, next semester I will take it). I am just somehow afraid that if my lecturer sees my term-explanation here and finds out that I do it wrong, it will impact to my grade next semester. Hehe.. Just some silly thought.

Okay, enough for the basa-basi things. Here is what I want to share in this post. Below, you will see what the real BTS is look like. Not that tower, not that antenna, although antenna is a part of the BTS system, it’s just a part not the entire sytem. Here is the fact. So, that mommy is wrong from the perspective of telecom engineer when answering to the kids like that, rite?

But one thing raises in my mind then. So if the mommy is wrong, what the mommy should answer? I think this answer is most appropiate for me. “Oh my dear boy, don’t ask. Just relax on your seat and eat your snack. You will get the answer soon you enter the university and take the telecommunication major. For now, just see that tower as a tower who gives us cellular signal.”.. Oh, not so good also, because the kids probably will ask again.” Mama, what is cellular“.. And the things will be get more complicated. Hehehe… Fortunately, I am not the mommy. Maybe in the next years in my life, I become the Daddy who drives the car and laughs as my wife answer the question from my boy.

However, it is my personal opinion. CMIIW.

What about you?

 

undefined

Iklan
16
Jul
07

KRL Ciujung

Sejak hari pertama KRL Ciujung resmi beroperasi, saya langsung menjadi konsumen pertamanya. Ini bermula saat saya membeli tiket KA di Pondokranji dan melihat beberapa orang berkumpul di loket melihat kertas pengumuman yang ditempel. Karena ikut penasaran, saya pun melihatnya. Oh, ternyata itu jadwal kereta KA Ciujung yang baru. Kebetulan pikir saya. Dalam hati, saya langsung berencana untuk mencobanya sore itu.

Sorenya, sepulah dari tempat KP sekitar pukul enam, saya sampai di stasiun TanahAbang dan langsung bertanya pada petugas loket dimana saya bisa mendapatkan tiket untuk KRL Ciujung. Petugas menjawab bahwa tiket dijual di Loket 2 seharga Rp. 5000,00. Hmm.. Tidak bisa dikatakan murah memang, tapi untuk kenyamanan yang akan diberikan, rasanya cukup worthed.

Setelah membeli tiket, yang berupa kartu elektronik, saya masuk melewati pintu masuk elektronik juga, dimana kita harus menggesekkan kartu tersebut pada sensor yang disediakan. Lucunya, penggesekan kartu yang dilakukan orang-orang banyak yang gagal. Saya cukup beruntung karena langsung berhasil di first trial. Hehe.. Teman saya, Ipul, juga termasuk di antara kaum gagal tersebut.

Oh ya, KRL Ciujung yang akan saya naikin itu berangkat pada pukul setengah tujuh. Waktu pertama naik terus terang saya bingung. Setahu saya, nama keretanya KRL Ekonomi AC. Jadi, ekspektasi saya, karena Ekonomi, pasti rame nan berjubel nih. Sementara kereta yang saya lihat kok sangat sepi ya. Later, saya baru sadar bahwa stasiun TanahAbang termasuk stasiun keberangkatan awal. Jadi wajar saja kalau sepi. Hehe..

Tapi memang sepi kok. Dibandingkan dengan KRL Express Sudirman yang sering saya naikin dari Pondokranji, ini sangat jauh lebih sepi. Hampir semua penumpang mendapatkan tempat duduk. Wow.. Enak juga memang. Tapi kok saya mikirnya gini ya. Kalau nih kereta sepi terus, gimana ya dari sisi bisnisnya? Kalau sepi terus bangkrut, orang-orang yang sudah senang menggunakan kereta ini gimana nasibnya? Hmm..

09
Jul
07

Jika kamu mencintainya, ….

Jika kamu menc*ntainya, …..

Option A : Jika yang berkata seorang pria
Kebanyakan pria (atau hampir semuanya malahan) lahir dengan memikul tanggung jawab besar nantinya. Sebagian dari mereka kelak akan menjadi pemimpin rumah tangga. Sebagian lainnya malah akan menjadi pemimpin dalam lingkup yang lebih besar, seperti kantor, RT, RW, atau negara. Jawaban dari titik-titik tersebut tergantung sekali pada usia dan kematangan seperti apa saat kita berada pada kondisi di atas.

Pria SD (belum pantas disebut pria ya sebenarnya) tentu akan mengisi titik-titik itu berbeda dengan apa yang diisi oleh pria SMP dan SMA. Namun, seiring dengan semakin maraknya fenomena Sinetron C*nta dan Kasih Sayang Remaja yang dapat dilihat oleh semua segmen usia tanpa batas, jawaban dari titik-titik di atas bisa jadi cenderung konvergen ke arah trend yang diciptakan oleh sinetron-sinetron tersebut (jadi bisa saja jawaban dan perilaku anak SD,SMP,SMA sama).

Hal yang berbeda untuk jawaban seorang mahasiswa. Setidaknya, secara ideal, semakin dewasa kita, pikiran kita akan menjadi semakin kompleks dan maju. Pada tahap mahasiswa (bukan lagi siswa SD,SMP,SMA), malu dong kalo pikirannya sama dengan anak SD/SMP/SMA.

Seorang mahasiswa, terutama yang mendekati tingkat akhir, tidak akan gegabah dalam menyikapi perasaan yang dimilikinya (harusnya). Fakta bahwa mereka akan segera lulus dan mencari pekerjaan tentu akan menjadi sebuah parameter yang cukup kuat dalam menentukan sikap. Mereka akan berpikir lebih mature dan tidak hanya melihat c*nta sebagai hal-hal yang sering dimainkan dalam sinetron yang sering kita lihat di televisi (kita?).

Begitulah. Memang menyikapi perasaan c*nta yang kita miliki itu susah (setidaknya menurut saya). Butuh waktu. Bukan hanya waktu untuk menunggu, tapi waktu untuk berpikir tentang implikasi apa yang bakal terjadi setelah kita mengucapkan c*nta tersebut.

Yang penting, pesan saya pada diri sendiri, jangan gegabah dan berhati-hatilah dalam menyikapi c*nta (bagi kaum pria)..

Dalam usia saya, jika saya harus melengkapi pernyataan di atas, berikut jawabannya.
Jika kamu menc*ntainya, katakanlah dalam hatimu, dan jika harus mengungkapkan, ungkapkanlah tanpa berlebihan… Jika harus menjaga, jagalah itu.. Jika tak mampu, maka tetaplah terjaga dalam ketidakterjagaanmu tentang c*nta… Karena belum saatnya untuk mengungkapkan c*nta (lha wong belum punya modal dan terus terang juga belum berani mikul tanggung jawab yang gede saat benar-benar berkata sepenuh hati kayak mau ngelamar orang “Aku c*nta kamu”..)
Karena yang berlebihan tidak baik..
Karena tidak semua c*nta harus diungkapkan, hingga saatnya tiba..

Jadi, haruskah kita berkata c*nta pada orang yang kita c*ntai sekarang?
Silakan jawab sendiri menurut pemikiran anda.

nb:maaf, postingan ini hanya pendapat saya pribadi. tidak ada maksud menggurui atau sok tahu. hanya ingin berbagi. tak lebih. 
03
Jul
07

Keteraturan vs Polisi Tidur ?

Lagi-lagi, tertarik untuk membandingkan sesuatu.

Kali ini masalah keteraturan dan ketidakteraturan. Ini dilatar-belakangi oleh kekesalan saya akan banyaknya polisi tidur selama perjalanan dari Rempoa ke Stasiun PondokKranji Bintaro naik angkot D-08 hari ini (Selasa).

Salah satu alasan polisi tidur dibuat adalah untuk menghindari terjadinya kecelakaan karena pengendara yang terlalu cepat dalam mengoperasikan kendaraannya (bener ga ya?).. Dalam kondisi ideal, orang-orang harusnya sudah sadar dan mengerti bahwa bila berkendara di daerah perumahan dan gang-gang kecil, seyogyanya ya pelan-pelan dan hati-hati. Mengapa? Karena bisa saja anak dari Pak Anu yang bernama Ani yang masih berusia 5 tahun tiba-tiba “nyelonong” bermain di jalan raya perumahan. Sementara apabila kita berkendara dengan kecepatan sekian puluh km/jam, dan dihadapkan pada situasi harus mengerem kendaraan karena si Ani tadi pada jarak sekian puluh meter saja, apabila kalkulasinya tidak tepat, tentu yang terjadi adalah tabrakan.

Dalam kenyataan, orang tidak bisa selamanya “teratur”. Untuk orang-orang jahat yang tidak hati-hati dan suka ngebut, dibutuhkan polisi tidur ini untuk mencegahnya. Karena jika mereka tetep ngotot aja untuk ngebut orang tidak waras tentunya, maka bisa dirasakan sendiri betapa tidak enaknya terlompat-lompat walaupun sekian cm saja dari tempat duduk anda.

Untuk orang-orang baik, yang tetap hati-hati saat berkendara, dibutuhkan juga polisi tidur ini, untuk mengingatkan mereka agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti menabrak si Ani kecelakaan.

Namun, apakah perlu sebanyak itu polisi tidur di jalur angkot D-08? Hampir setiap 10 detikan saya mengalami polisi tidur yang menyebabkan saya tidak bisa tidur di angkot.

Mungkin ada penjelasan yang lebih scientific dari disainer perumahan tersebut. Tapi, biarkanlah saya mengungkapkan kekesalan saya di sini.

Wishing the ideal world full of discipline people not like me though so that there is no need of that many sleeping-polices..

02
Jul
07

3G in Japan vs 3G in Indonesia

NTT DoCoMo pertama kali meluncurkan program 3G-nya pada bulan Oktober 2001, menurut buku DoCoMo’s Japan Wireless Tsunami. Sementara itu, Telkomsel meluncurkan layanan 3G pertamanya pada 15 Agustus 2006, menurut link ini. Untuk urusan 3G, kita ketinggalan 5 tahun dari Jepang. Just wondering, what technology arises in Japan now while we are still working with 3G here…

Meanwhile, technology keeps raising the bar-and, perhaps, if it is successful, exciting new passions. In October 2001, NTT DoCoMo officially launched its third generation (3G) high-speed wireless Internet service in Tokyo. For Yasuko, is the world’s first instance of 3G a new opportunity to leap ahead in her career or simply another gadget? At this point, she’s not sure. She is not sure she needs all that speed right now. But she does plan to move into a new apartment soon and when she does, she doesn’t want to have to pay for a wired phone
line. “The problem is what to do about my Internet connection for my laptop?”

02
Jul
07

Realita vs Keinginan

Realita dan keinginan kita terkadang berjalan paralel. Seperti sebuah garis yang membentuk sudut nol derajat. Lurus, dan tak akan berpotongan. Seperti sebuah fungsi yang gradiennya sama namun dengan titik potong sumbu X atau Y yang berbeda, mereka tak akan saling menyentuh.

Dalam hidup, kita tentu banyak berharap. Banyak merencanakan dan ingin melakukan berbagai hal yang ideal. Namun nyatanya, di akhir kita sering hanya bisa tersenyum kecut melihat kenyataan bahwa apa yang kita harap dan rencanakan ternyata tak ada yang terwujud.

Sebagian dari kita beruntung, karena mempunyai hati yang lebih “lapang dada” dibandingkan yang lain. Bagi orang seperti ini, paralelnya realita dan keinginan tentu hanya sebentar saja menjadi masalah. Mereka kemudian tersadar bahwa ada kekuatan lain di dunia ini yang merencanakan semuanya. Bahkan fakta bahwa mereka mempunyai rencana akan sesuatu pun sudah terencanakan oleh-Nya. Oleh Allah SWT.

Namun bagi sebagian yang lain, fakta bahwa realita mereka ternyata tidak sesuai dengan keinginan akan membuat stress. Membuat mereka terbebani dan kepikiran. Bagi mereka, hal ini akan menimbulkan kekecewaan, rasa menyesal, dan pertanyaan yang mungkin tak ada yang bisa menjawab. Misterius. Kita mungkin bagian dari orang-orang ini. Termenung saat apa yang kita harapkan tak terjadi. Menangis saat realita ternyata berbicara terlalu kejam dengan kita. Andaipun kita bisa tersenyum, senyum yang keluar dari dua bibir kita hanyalah sebentuk senyum kecut. Senyum yang kita tampakkan hanya untuk menyembunyikan kesedihan yang mendalam.

Begitulah. Memang tak selamanya keinginan tak berpotongan dengan realita. Tapi saat kita dihadapkan pada kenyataan tersebut, ada baiknya kita merenungkan sejenak, dan berusaha untuk bergabung dengan golongan orang pertama, golongan orang-orang yang lapang dada. Semoga.

02
Jul
07

Weekend

Setelah 5 hari menjalani Kerja Praktek yang melelahkan, hari Sabtu dan Minggu kemarin rasanya waktu yang sungguh berharga untuk digunakan istirahat sejenak dari rutinitas. Sebenarnya, bukan KP-nya yang melelahkan, mengingat sepanjang hari saya berada di kantor ber-AC dan dimanjakan oleh internet yang kencang. Tapi perjalanannya itu lho, seperti yang saya ceritain di postingan sebelumnya, yang bikin capek.

Teman-teman saya sempat mengajak untuk bermain-main ke Dunia Fantasi kayak anak kecil pas liburan, tapi karena urusan finansial, saya tak bisa bergabung dengan mereka. Sebagian teman lain mengajak ke seminar yang menghadirkan Rahmat Zikri, salah satu orang CNRG, namun dengan alasan yang sama, saya tidak bisa bergabung.

Akhirnya, hari Sabtu saya gunakan untuk tidur dan bermalas-malasan di atas tempat tidur sambil mendengarkan musik dan melihat film, Pursuit of Happiness. Siangnya, saya diajak oleh Tante saya ke Pondok Indah Mall, menukarkan baju yang kebesaran, dilanjutkan dengan membeli Cheese Burger di A&W sebelum pulang.

Di hari Minggu, saya diajak pergi lagi. Kali ini ke Senayan. Saya mencoba Burger Kings di lantai dasar Senayan City. Saya akan coba bercerita sedikit tentang Burger Kings di lain kesempatan. Setelah dari sana, perjalanan dilanjut ke Festival Komputer Indonesia di JCC. Saya membeli sebuah flashdisk Kingston seharga 100 ribu di sini. Murah.

Tidak terlalu mengesankan memang. Namun ada satu hal yang saya ambil pelajaran dari proses weekend ini. Selama sendiri di kota Jakarta, rasanya waktu weekend sungguh berharga bagi saya. Saya berpikir, orang yang telah berkeluarga pasti menantikan weekend ini untuk bercengkerama bersama keluarganya, sekedar mengobrol atau jalan-jalan bersama ke suatu tempat, hal yang tidak bisa dilakukan selama hari kerja. Bagi yang jarang bertemu dengan kekasihnya, waktu weekend sering digunakan untuk keluar bersama ke suatu tempat. Bagi mahasiswa, waktu weekend digunakan untuk bermain bersama kawan-kawannya.

Namun, karena saya sendiri, saya tidak bisa menghabiskan waktu dengan siapa-siapa selama weekend ini, kecuali dengan diri saya sendiri. Memanjakan diri sendiri di masa weekend. Ah, tak menyenangkan memang.