Arsip untuk April, 2008

27
Apr
08

Properti waktu dalam sistem FreeBSD (1)

Konon, ada 4 jenis properti waktu yang dipunyai oleh sebuah file dalam sistem FreeBSD. Sebelum membahas lebih lanjut, perlu diketahui bahwa struktur file dalam sistem FreeBSD melibatkan apa yang disebut inode. Artikel teknis bisa dibaca di sini. Sebuah file terbentuk atas inode yang mempunyai pointer ke arah data.

1. Access time
Access time memberikan keterangan kapan terakhir kalinya sebuah file diakses (baca dan tulis).

2. Modified time
Modified time memberikan informasi tentang kapan terakhir kalinya sebuah file dimodify.

3. Changed creation time
Sering disebut sebagai ctime. Ctime bukan merupakan kependekan dari creation time, melainkan changed time. Apa bedanya changed dan modify? ctime menangkap perubahan bukan hanya dari sisi data, melainkan juga perubahan yang dilakukan pada parameter-parameter inode, seperti ownership, permission, dsb. Jadi, ketika sebuah file kita ubah, misal kita menambahkan sebaris teks pada file kita, changed time dan modified time juga berubah. Namun, apabila kita hanya melakukan operasi seperti chmod atau chown, artinya, melakukan perubahan bukan pada data, melainkan pada parameter ownership dan permission pada inode, changed time akan berubah, namun modified time tidak.

4. Birth time
Sering disingkat btime. Btime memberikan informasi yang bersifat statik, tentang waktu “kelahiran” sebuah file di sistem operasi kita. Btime tidak akan berubah, dan akan terus sama. Apabila kita ingin melihat kapankah sebuah file muncul untuk pertama kalinya, dengan mudah kita bisa melihat parameter btime yang ada dalam file kita.

Untuk contoh gimana cara mengetahui dan penggunaan keempat parameter waktu tersebut, akan dibahas pada artikel berikutnya (ketika saya ada akses ke console 😀 ). Mohon maaf kalau ada yang salah. CMIIW…

Iklan
26
Apr
08

NetBSD Based Robot

This is a video about NetBSD-based robot presented at asiabsdcon 2008. For those of you who can’t see this video, I will tell you what it’s about. It’s basically a white robot, complete with its head, legs, and hands. What it can do is actually laughing. Yes, this robot starts to laugh everytime somebody turns on the switch. It laughs, moves its hand accordingly, somewhat similar with what Kamen Rider does. And after getting satisfied by laughing for like 10-15 seconds, it starts to fall down, and laughs again. Several seconds later, it does a somewhat strange movement (imagine yourself sleeps on bed, lift up your foot to make a ninety degree angle with your bed), and then, finally, try to get up. But ups, there is some mistake, the robot can’t get up properly.

For you who can see the video, enjoy it 😀

26
Apr
08

Kansai in Pictures

Ini adalah jejak kaki yang banyak uangnya. Dipotret di patung Kannon @ Gion, Kyoto.

Menyeramkan sekali melihat pohon ini. Kering. Tandus. Apalagi sewaktu malam, lihat di bawahnya itu ada lampu-lampu yang bisa menyala dan menyoroti si pohon.

Ini adalah foto mobil merah kecil @ Arashiyama, daerah pegunungan di Kyoto.

Beginilah cara Kyodai (Kyoto University) dalam menggelar acara OHU (Open House Unit). Mereka meletakkan baliho2 besar di sepanjang jalan depan kampus untuk menarik minat mahasiswa baru yang ingin masuk circles/unit tertentu.

Bagi yang udah tamat baca 20th Century Boys, pasti tidak asing dengan gambar ini. Saya kaget sekali melihat patung Sun Tower ini pertama kalinya. Ternyata memang benar-benar ada, di Osaka Expo Memorial Garden.

Lagi-lagi, pohon kering. Kali ini, background-nya adalah Sanjusangendo Temple. Mirip dengan rumah joglo di Jogja bukan?

25
Apr
08

Saling toleh-menoleh

Sedikit saja kusentuh bajunya, dia menoleh dan memandangiku heran. Padahal saya tak sengaja lho, lagipula bukan sentuhan langsung juga, melainkan sentuhan antar lengan baju kami. Sekian menit kemudian, lha kok kaki saya ini tiba-tiba gatel, ya otomatis tho aku gerakkan satu kaki di atas kaki yang lain (maksud hati menggaruk, apa daya sepatu masih terpakai, jadi gak puas garukannya). Eh pas kaki kanan kembali ke tempat, lagi-lagi aku menyentuh dirinya, kali ini sepatunya. Hiks, ditoleh lagi deh.

Sudahlah, lebih baik diam di tempat. Saya pun mengeluarkan iPod dari tas, mendengarkan lagu rock terbaru dari Dream Theater. Lagi suka sama album Systematic Chaos, mengingatkan saya atas album masterpiece dari DT (bukan Daarut Tauhid) yang lain, Scenes from a Memory. Eh, lha ya kok udah berusaha diem si orang itu tetep noleh. Mungkin karena volume iPod saya terlalu keras (padahal menurut saya sih tidak). Saya curiga pergerakan tangan dan badan saya dalam memasang dan mengambil iPod terlalu banyak. Oke lah, saya kecilkan sekarang. Ambil aman.

Nampaknya suasana sudah mulai tenang. Si orang itu tidak menoleh-noleh ke saya lagi. Malahan dia sekarang keliatan tidur sambil berdiri. Dalam hati saya heran, kok bisa ya. Tiba-tiba, hape saya di dalam tas bergetar. Terpaksa saya harus mengeceknya, tentu saja dengan membuka tas terlebih dahulu. Maklum, ini bukan tas mahal yang dibeli di depato-depato yang ada di Ginza, jadi ritsletingnya bersuara dengan nyaring ketika saya gerakkan. Dan bisa ditebak kan, si orang ini tiba-tiba bangun dan OMG, lagi-lagi menoleh ke saya. Sudah kebanyakan merasa ngganggu dia, keluarlah kata sakti itu, “Sumimasen“, yang artinya “maaf”.

Di stasiun Saginuma, orang yang duduk di depan saya berdiri dan keluar dari kereta. Tentu saja ini kesempatan emas bagi saya, untuk duduk dan tentu saja, tidur. Dan duduklah saya. Duduk pun susah. Terkadang space begitu sempit sehingga susah bagi kita untuk duduk. Dan melihat pengalaman pada paragraf pertama, saya harus menghindari menyentuh selembar benang pun dari pakaian orang-orang yang ada di sekitar saya. Apalagi beberapa dari mereka tidur.

Dan… Itu susah. Spacenya begitu sempit, mau tak mau saya harus menyenggol lagi-lagi lengan baju seseorang. Orangnya pun bangun, dan, itulah baiknya orang yang udah tidur dan kecapekan, mereka tidak menoleh, melainkan melanjutkan tidur kembali. Aman. Duduk udah tenang, tas di pangkuan, kantuk pun datang menghadang. Dan tidurlah saya. Eh, sebelum saya tidur, saya sempat menoleh ke orang yang dari tadi nolehin saya itu. Dia tetep aja ngeliatin saya. Ah, mungkin dia iri saya bisa tidur sambil duduk, sementara dia harus tidur sambil berdiri.

Yah, begitulah hidup di kereta 😀

25
Apr
08

Tulisan bebas

Maka mereka pun pergi dari tempat itu. Padahal di sana beberapa orang masih merintih menahan lapar dan haus. Orang-orang itu berteriak, memanggil sekelompok orang yang dengan angkuh meninggalkan komunitasnya. Tapi bukan orang angkuh namanya kalau dipanggil kemudian menoleh bukan. Koreksi, dipanggil oleh orang yang lebih ‘rendah’ posisinya. Tentu saja, kalau misal yang manggil seorang presiden, orang-orang ini pasti akan dengan sigap membalikkan tubuhnya dan membungkuk hormat, menyunggingkan senyum licik di bibir mereka.

Masalahnya adalah, rintihan lapar dan haus itu bukan dari orang asing. Mereka adalah sahabat-sahabat orang angkuh ini. Sahabat terdekat, yang dulunya merintis jalan menuju Roma bersama-sama, mencari kesuksesan. Begitu naifkah mereka sehingga pengalaman pahit yang dulu mereka jalani bersama orang-orang itu di tepi sungai, memancing ikan untuk makanan selama beberapa hari ke depan, mencuci baju di malam hari karena harus menghindari pantauan satpol PP (ada tidaknya satpol PP di kota Roma diragukan kebenarannya) yang sepanjang siang bersliweran di atas bukit, tidur di bawah temaram malam, bahkan terkadang harus berlarian ke sana kemari karena tenda mereka tertiup angin yang kencang di malam hari, semua menjadi tak berbekas sama sekali di hati mereka.

Percuma saja dulu membangun mimpi bersama kalau hasilnya harus dikhianati begini bukan. Bukankah inti dari kebersamaan dalam menggapai mimpi adalah saling bahu membahu, membantu satu sama lain untuk bersama menuju puncak (ini bukan AFI). Walaupun tak bisa dipungkiri, kemampuan setiap manusia berbeda, sehingga pada satu waktu tentu saja ada orang yang lebih duluan mencapai puncak, sementara yang lain masih saja memandang ke atas dan berjuang.

Yah, namun pada akhirnya, memang begitulah hidup.

22
Apr
08

Kimatta?

Hari ini saya berniat untuk masuk ke kuliah “Quantum Information Processing”. Maksud hati sih penasaran dengan kelanjutan kisah Alice, Bob, dan Eve. Tapi setelah dipikir lebih lanjut, saya ini sudah terlalu melenceng dari dunia teknik elektro, tepatnya telekomunikasi. Apalagi ternyata, kuliah Guided Wave Circuit yang saya ambil hari ini cukup menarik juga. Jadilah saya ambil keputusan, tidak jadi mengambil kuliah cinta segitiga itu.

Tentang Guided Wave Circuit itu sendiri, dari namanya saja sudah elektro banget. Materinya hampir sama dengan mata kuliah Elkom (Elektronika Komunikasi) yang pernah saya ambil dulu. Saya cukup sedih sekaligus senang ketika mengambil kuliah ini. Senang karena tentu saja saya diingatkan kembali dengan ilmu-ilmu elektro, sedih karena saya jadi berpikir, dulu waktu Elkom saya kemana aja ya kok banyak hal yang baru saya ketahui dengan jelas kali ini.

Btw, ada sebuah closing yang menarik dari sensei Guided Wave tadi. Di penghujung slide, beliau menampilkan slide tentang Smith Chart. Ya, Smith Chart yang melegenda itu. Yang menjadi momok bagi setiap mahasiswa Elektro, terutama di tahun ketiga semester dua. Namun, untuk sebuah konsep yang begitu penting dan menyeramkan itu, dia tidak menjelaskan apa-apa. Malahan bilang, silakan belajar sendiri kalau pengen tau Smith Chart.

Alasannya? Si sensei bilang kalo pada masa sekarang, semua kalkulasi sudah dilakukan dengan software, termasuk untuk urusan Smith Chart ini. Jadi, ke depannya, Smith Chart tidak akan banyak dipakai dalam kuliah beliau. Konsep-konsep dasarnya tentu saja dipakai, namun tidak perlu sampe menggambarnya di kertas segala.

Begitulah, entah dengan ditiadakannya Smith Chart apakah membuat kuliah ini menjadi lebih mudah dibandingkan Elkom. Hanya waktu yang akan menjawab.

Oh ya, kimatta adalah bentuk plain form past tense dari kimarimashita, yang artinya, memutuskan/decide. Kenapa saya kasih tanda tanya adalah karena tentu saja masih harus menunggu (lagi2) tanda tangan sakti dari sensei pembimbing. Begitulah..

18
Apr
08

Alice, Bob, dan Eve

Suatu ketika, di sebuah negeri antah berantah, tinggallah seorang wanita cantik yang bernama Alice. Alice, yang walaupun dengan kecantikannya tentu saja bisa menggaet lelaki manapun di negerinya, ternyata harus tersiksa karena dia jatuh cinta dengan lelaki dari negeri seberang. Siapakah nama lelaki tersebut?

Namanya adalah Bob (maaf, bukan si Bob tukang blog itu). Si Bob ternyata juga seorang pangeran terganteng di negerinya. Klop lah! Putri yang cantik dan pangeran yang gagah.

Nah, karena mereka tinggal berjauhan, mau tak mau komunikasi pasti tidak bisa dilakukan secara langsung. Lalu, media apakah yang mereka gunakan? Inilah yang aneh. Mereka tidak menggunakan gelombang radio seperti layaknya pemuda jaman sekarang yang pacaran via telepon Esia dan Fren (masih murah gak ya). Yang mereka gunakan adalah gelombang-gelombang foton, yang entah dengan media transmisi apa, bisa dikirimkan dari transmitter di negeri si Alice ke receiver di negeri si Bob.

Nah, foton yang dikirimkan ini juga lucu. Dalam satu waktu, si Alice dan Bob hanya bisa mengirim satu data saja, di antara dua data yang ada, yaitu bit 0 dan 1. Dan bit 0 dan 1 ini tidak dikirimkan dengan gelombang persegi yang kotak-kotak itu, melainkan dengan gelombang yang polarisasinya horizontal atau vertikal, masing-masing merepresentasikan 0 dan 1.

Nah, lalu siapakah Eve?

Eve adalah seorang wanita yang dari sejak masa kecil mencintai si Bob. Dia tinggal di perkampungan di antara negeri si Bob dan Alice. Maklum, karena rakyat biasa, dia tidak bisa mendekati Bob yang seorang pangeran. Tapi si Eve ini pinter ceritanya. Dia udah lulus kuliah masalah gelombang, sehingga dia bisa mencuri gelombang-gelombang foton yang sliwar sliwer di antara negeri Alice dan Bob. Dari sini, dia bisa mendengarkan mereka berkomunikasi, walaupun tentu saja dia harus mengira-ngira apa arti dari komunikasi mereka berdua.

Mau tau lebih lanjut tentang mereka? Silakan baca novel Alice dan Rabbit di toko Gramedia terdekat. Hehehe… Salah ding. Mereka bertiga dapat kita temui dengan mempelajari apa yang disebut Quantum Information Processing. Cerita lebih lanjut tentang kisah cinta segitiga mereka akan saya lanjutkan kalau saya dateng di kuliah hari Selasa nanti. Kemarin Selasa saya tidak datang karena saya pikir kuliah ini tidak menarik. Tapi setelah lihat hand-out punya tutor saya di lab, nampaknya perlu dicoba juga (walaupun lagi-lagi, gak tau apakah sensei membolehkan).