Arsip untuk November, 2007

27
Nov
07

Membaca

Membaca. Kita semua selalu membaca setiap hari. Secara tidak sadar, saat kita melihat tulisan (yang kita tahu bahasanya), hati mengartikan itu sebagai rangkaian huruf yang langsung terbaca oleh mata dan otak kita.

Hanya saja, memori kita terbatas. Ada kalanya kita tidak perlu membaca beberapa bagian yang tidak penting, agar kita tidak mengingatnya dan memasukkannya dalam memori kita. Apa ini artinya kita harus menutup mata saat berjalan sehingga tidak melihat papan-papan iklan dan pengumuman yang berseliweran?

Tidak begitu.. Ini berkaitan dengan arus informasi yang melaju dengan cepat tanpa batas. Kita berada di lingkungan dimana informasi dan berita datang dengan tingkat akselerasi yang meningkat setiap waktunya. Apabila anda terkoneksi ke internet selama 1/3 waktu hidup anda dalam sehari, akan sangat terasa efek dari banjir informasi ini.

Ada kalanya, informasi yang terbaca oleh kita terlalu diverse dan bermacam-macam topiknya. Ini yang susah. Apabila kita membaca artikel-artikel dengan topik yang sama sekaligus, mungkin kita masih bisa mengingat sebagian besar isinya, karena kita bisa mengaitkannya satu sama lain. Namun apabila informasi itu terlalu divergen, susah untuk mencari benang merahnya, sehingga keesokan harinya, kebanyakan dari apa yang kita baca kemarin kita lupakan dengan sendirinya (bahkan kita mungkin tidak sadar kita sudah melupakannya).

Saya jadi ingat, semakin banyak hal yang kita ketahui dan pelajari, kita akan semakin sadar bahwa kita belum tahu apa-apa. Lucu aja kalo ternyata itu diartikan sebagai kita terlalu banyak belajar dan membaca, sehingga kita juga lebih banyak lupa, dan akhirnya memang kita semakin tidak tahu apa2. Guyonan mahasiswa, kalo udah mau ujian, mending jangan belajar, biar gak lupa πŸ˜€

Yang di atas barusan itu selingan saja. Intinya, ada baiknya kita memilah-milah informasi apa saja yang akan kita baca. Pada dasarnya, jangan sampai saat kita membaca sesuatu, informasi yang kita baca itu jadi percuma, karena hilang keesokan harinya dari memori kita. Kalo kita senang membaca, mungkin ada baiknya diikuti dengan menulis, karena dengan begitu kita bisa mendokumentasikan apa yang kita baca, dan jaga-jaga sebagai backup kalo di lain kesempatan kita lupa.

Saya sendiri, sudah terlalu banyak membaca artikel-artikel gak jelas di internet, yang kebanyakan, di keesokan harinya saya lupakan. Nampaknya, harus belajar bagaimana cara membaca yang efektif dan mendokumentasikannya dalam tulisan πŸ˜€

Iklan
26
Nov
07

Laox Densha Otoko

Doumo Arigatou Mr. Roboto
Mata o-hima de..
Doumo Arigatou Mr. Roboto
Himitsu wo shiritai..

laox

Berkaitan dengan lagu pembuka postingan ini, anda yang suka dorama Densha Otoko pasti tau. Nah, kalo yang freak banget, ingat nggak sama gedung di atas? Yang ada tulisan Laox? Coba lihat skrinsut di bawah ini.

densha

Ketemu satu tempat syuting di dorama πŸ˜€

24
Nov
07

Tokyo Motor Show

Huge!

It was a bi-annual events held in Tokyo where hundreds of cars, motors, weird vehicles, technologies, girls, performed altogether in a harmony for the show. Fun, made me think that somehow mechanical engineer and electronics designer were very cool πŸ˜€

I don’t have many interesting facts to tell. All the exhibition explanations was in Japanese that I couldn’t understand. I did nothing except watching and taking pictures πŸ˜€ (what else that I could do, guys)

However, for you automotive-geek, if you happen to be around Tokyo, it was a must-attend show.Highly recommended !

small.jpg
ecofriendly-small-weird car?

truk aneh
next generation truck?

mercy
mercedez benz car (look at the door)

volvo
volvo was confident with its classic cars in the show πŸ˜€

mazda
star of the show! mazda..

bobby
the bobby !

honda!
honda motorcycle

kawasaki
ninja!

24
Nov
07

Tokyo Jidai Matsuri

November 3rd was Japan national holiday (Culture Day). I browsed the web to search for any events near Tokyo which I can visit in this day. I found that there would be a big events in Asakusa named Tokyo Jidai Matsuri. It was an annual event in Asakusa where people wear traditional costumes from Edo Period and march around the temple.I went there with Agus, Marko, Saiko, and Marko’s friend from Mexico. We assembled in Shibuya (our meeting point).

We arrived there seeing nothing around Asakusa temple that we think related with the Matsuri. Too fast I think. We tried to ask some policeman, and we were not satisfied by their answer (mostly, because we couldn’t ask it in Japanese in a proper way πŸ˜€ ).

There were thousands people coming in this place. Either only visiting the temple, buying things in the traditional shop along the way to Asakusa, or watching the Matsuri itself. Here is some picture that I took during the show.

me @ asakusa
me @ tokyo jidai matsuri

girls @ tokyo jidai matsuri
probably, samurai lady?

long dragon
wow, long dragon…

cart lady
a cart lady ?

ngintip oi
take a peek ? hey, beware of the guards ( i was scolded when i took this pics )

lady
geisha ? beautiful lady ? who ?

swan lady
swan lady @ matsuri

old samurai
old guy with samurai costume

ladyΒ colorful

colorful lady in hat

24
Nov
07

Pengalaman Menarik ke Takao dan Shinjuku

Kemarin saya mengikuti salah satu kegiatan piknik dari SATO Corporation ke Takao-san. Menarik, karena inilah pertama kalinya saya mengikuti kegiatan dimana saya cuman sendiri (tidak bersama teman) dan tidak mengenal siapapun, kecuali Narama san, yang mengajak saya untuk datang ke acara ini.

Saya datang ke Takaosanguchi-eki jam setengah sembilan, dan langsung disambut dengan udara dingin yang menusuk kalbu. Padahal ini masih di kaki gunung. Sekitar setengah jam kemudian, setelah celingukan sana-sini mencari orang-orang yang mungkin saya kenal, saya disapa oleh Narama san dari SISF. Setelah itu, beberapa saat kemudian, bersama dengan rombongan dari SATO, saya mulai mendaki gunung Takao.

Pemandangan yang saya jumpai kali ini nampak lebih indah, karena kita bisa melihat Momiji dan koyo (pohon yang berubah warna menjadi merah). Kemarin-kemarin saya ke gunung ini bersama Host Family, pohonnya masih ijo semua, jadi gak terlalu indah untuk dipandang. Kali ini saya bener-bener merasakan nuansa Autumn di Jepang. Tepatnya, nuansa Autumn yang menjelang Winter (di atas dingin sekali, 10 derajat celcius).

autumn in takao

Kami sempat mengadakan piknik ala orang Jepang, yaitu menggelar alas di puncak gunung dan menikmati udara dingin sambil makan dan ngobrol. Beberapa orang menghangatkan air untuk membuat Pop-Mie (namanya tentu saja bukan Pop-Mie πŸ˜€ ) . Saya hanya bisa menggigil dan sesekali merespon pembicaraan mereka dengan bahasa campur aduk English-Jepang-Indonesia. Ya, Indonesia, karena ada satu orang yang sempet belajar bahasa Indonesia selama sebulan di UNPAD. Hehehe…

Keluarga Narama san pulang lebih awal, begitu pula dengan saya. Mau gimana lagi, lha wong saya kenalnya cuman sama beliau saja, jadi saya ngikut aja kemana mereka pergi πŸ˜€ Mereka berhenti di Shinjuku, lagi-lagi, saya pun ikut, karena selama 2 bulan ini belum pernah ke sana. Teman saya, Ivan Kurniawan, sempet cerita kalo di Shinjuku ada tempat orang jualan kecap. Jadi saya pikir gak ada salahnya untuk muter-muter sejenak, sapa tau bisa nemuin toko itu (walaupun di akhir nanti saya gak nemuin 😦 ).

Nah, di sinilah pengalaman menarik itu dimulai (di atas bukan pengalaman menarik :D). Ketika akan berpisah di Shinjuku, Narama san dan istri berpindah ke jalur kereta lain. Tapi tidak dengan anak perempuannya, Kimi san namanya kalo tidak salah. Dia menawari untuk menemani saya muter-muter Shinjuku dan mencari kecap. Cukup kaget juga, serius nih?

Dan memang dia serius. Saya diajak ke beberapa depaato (Keio dan Odakyu) untuk mencari kecap. Dalam hati tentu saja saya berkata “Mbak, gak mungkin ada di depaato mah kecap Bango :D)”. Tapi saya nurut saja muter-muter, sekalian ngobrol2 dalam….bahasa Inggris. Ya, bahasa Inggris, bukan bahasa Jepang. Nggak banyak orang Jepang yang saya temui bisa diajak ngobrol dalam bahasa Inggris dengan enjoy, jadi ini kesempatan yang langka sekali.

Setelah gak nemu di 2 depaato, kami pun beranjak keluar menelusuri jalan-jalan di sekitar Shinjuku, siapa tau ketemu. Saya sebenarnya nggak enak dan bingung, tapi mau gimana lagi, kata dia sekalian muter-muter (sightseeing), karena saya kan belum pernah ke Shinjuku. Ya sudah, saya nurut saja, karena memang cukup enak juga ngobrol sama dia. Kimi san ini orangnya terbuka dan suka cerita banyak hal. Dari cerita ini saya tau beberapa fakta seperti, akademi balet di Jepang itu mahal banget, jadi waktu kecil dia gak boleh sama ortunya untuk latian balet πŸ˜€

Singkat kata, sekitar 2 jam kami muter-muter Shinjuku. Pukul lima dia bilang kalo dia harus pulang. Ya udah, saya ikut juga pulang. Di akhir perjalanan ini, dia bercerita tentang motivasi dia untuk bisa bahasa Inggris. Dia sempet ikut akademi bahasa Inggris di Jepang yang cukup bonafit (Novel apa gitu namanya, lupa), tapi itu akademi akhir-akhir ini bangkrut. Namun, itu nggak mematahkan semangatnya untuk belajar bahasa Inggris. Dia mengunjungi English Cafe dan ngobrol bersama beberapa orang asing, tentu saja, dengan membayar sejumlah uang.

Dan…saya baru sadar, secara tidak langsung, dia juga belajar bahasa Inggris dengan saya πŸ˜€ Dia juga bilang kalo memang tujuan dia datang ke acara mendaki gunung Takao ini karena Ayahnya bilang kalo di even ini dia bisa latian bahasa Inggris sama beberapa scholars dari luar Jepang. Dan, karena orang luar Jepang cuman saya aja (yang lain karena satu dan banyak hal pada gak dateng), ya sayalah yang jadi partnernya latian πŸ˜€

Begitulah. Sampai segitunya keinginan Kimi san untuk belajar bahasa Inggris. Dengan begitu, saya pikir, saya tidak terlalu merasa bersalah karena kita berdua sama-sama mendapatkan keuntungan dengan jalan-jalan bareng di sekitar Shinjuku πŸ˜€

Terima kasih Narama san dan keluarga. Pengalaman kemarin menarik sekali dan akan saya kenang sebagai salah satu momen indah bersama “keluarga” Jepang πŸ™‚

10
Nov
07

Heroes Day

Inspired by my friend’s post about Heroes Day, I want to write something just to remind myself, and you, that this day, November 10th, is a Heroes Day in Indonesia..

Speaking about Heroes day, I miss a lot of my times in elementary school where I used to be a Flag-Carrier boys. In my elementary schools years, it is such a big things for the students to ever have a position in Ceremonial Activities. Whether it is only a Class Guard (I find it difficult to express in English), a Ceremony Leader, a Conductor for students singing Indonesia Raya, or just a Pancasila and UUD 1945 reader..

We, in Ceremony Team, practiced a lot when it was near the day of the ceremony. Teacher would be angry to us if we didn’t gather around the field to practice the day before. We practice how to walk, how to salute the Flag, how to shout the commands correctly (for the ceremony leader), etc. As long as I remembered, my first position in Ceremony Team was a Class Guard. The students make a line and group in the ceremony based on their class. And each class has a Class Guard, who will give command and “lead” that class at the ceremony.

We did a little competition to get “higher” position in the Ceremony Team. We also had an opportunity to advance to the bigger level of ceremony, such as Independence Days Ceremonial Team, if we performed good in our school. It was such a big proud for us, the students, to be a ceremonial team in my city at the Independence Day of Indonesia.

When I went to Junior High School, I was also selected to be one of Ceremonial Team in my school. I was in Flag-Carrier team with 2 of my friends. It was kinda fun joining this team. We had a lot of activities, not only ceremonial, but also some out-school activities. One of the most interesting part of it was when we, the former students of the team, have to select the new member.

Youngsters this day absolutely know the terms of Orientation (OSPEK). I liked Orientation in my Junior High School period. Not that I was a mean person because I also liked to be oriented. It was challenging for me. Not interested to tell the detail, except one fact that at the night of the orientation day I made a little girl cried because I asked about her intention to use her watch πŸ˜€

In Senior High School, at the first day of Orientation, when the School Commitee asked the students who wanted to be an Opening Ceremonial Team, I raised my hands saying that I had a little experience in Flag-Carrier. Sadly, in my school, only women who carries the flag. I still participated in the ceremony though, but my position wasn’t good enough to be told (actually I didn’t know -again- how to call it in English). I was kinda assigned to be the student who have to call the teacher to lead the ceremony. Not a big things rite πŸ˜€

My adventures to be Ceremonial Team ended in Senior High School period, since I didn’t have much time (or just lazy πŸ˜€ ), to join the orientation. Absolutely, since there isn’t any ceremonial things in University, I couldn’t join any of it. Besides, if there exists that ceremony team, I don’t think that I will join them. Hehehe…

Ah… Remembering that stories.. I am just wondering if youngsters this day still admire and interested at that kind of activities..

p.s. This post didn’t have any relation with Heroes Day though πŸ˜€

06
Nov
07

NS2 Error in SunOS 5.8

For me, troubleshooting is an art.

Lanjutkan membaca ‘NS2 Error in SunOS 5.8’