Arsip untuk September, 2007

29
Sep
07

Ifthar Together

In my previous post, I wrote that the day I came here in Japan was also the first day of Ramadhan. I was kinda shocked because for the first day ever I came to  another country I had to do my “fasting” at the moment. I did my first sahur in the plane though, with some egg and fried potatoes..

But few days later after my first day here, Mas Zalfany, one of the Doctoral Student here in Tokyo Tech commented in this blog. He invited me to come to the Ifthar in South 3 Building of O-okayama campus. It took the same building with my laboratory, so it was easy for me to come by. I was very happy that I could meet people who also did fasting, especially because they were Indonesian. It is not the food that is important (although it is true that I’m actually very happy to taste the Indonesian food ^__^ ), but the connection and silaturahim between us..

Today, Mas Ihsan, M-2 student in Tokodai, also invited me to join the Ifthar with PMIJ (Persaudaraan Muslim Indonesia Jepang). There were a lot of Indonesian people there, many of them are Monbusho Scholarship’s students. I also met one of my high school’s alumni, Mas Deddy Nur Zaman, who once taught me some mathematic lesson back in my high school year.

I am very happy now. Thanks to PPI-Tokodai and PMIJ 🙂

Iklan
26
Sep
07

Kebiasaan di Atas KA

Ada beberapa kebiasaan orang Jepang saat berada di atas kereta api (berdasar pengamatan pribadi).

1. Mendengarkan iPod (atau alat musik portabel digital yang lain)

Biasanya anak-anak kecil muda yang seperti ini. Fenomena iPod dan alat musik digital memang sepertinya sudah menjadi hal yang biasa. Harga sebuah iPod shuffle 1 GB yang saya tahu dari teman saya (karena dia baru saja beli) adalah sekitar 7800 yen. Sedangkan harga makanan sederhana (bento) yang sering ditemui di beberapa konbini adalah sekitar 300-500 yen (mari kita ambil tengah2 saja, 400 yen). Perbandingan antara harga makanan dengan iPod bisa dihitung yaitu sekitar 1:20 (mendekati).

Sedangkan di Indonesia, harga iPod shuffle 1 GB adalah sekitar $ 85 (berdasarkan situs http://bhinneka.com ). Dengan nilai tukar dolar sebesar Rp 9100,00 per 1 dolar, harga iPod shuffle 1GB berarti sekitar Rp 773.500,00 . Sedangkan, ambil saja biaya makan sekali di Indonesia sekitar 4000-5000 rupiah. Rasionya berarti sekitar 1:170 an.

Jadi, tidak heran orang Jepang banyak menggunakan alat musik digital macam iPod shuffle 😀 Untuk membeli iPod itu, seorang mahasiswa di Jepang mungkin cukup gak makan 20 kali, kalo diitung sekali sehari, maka cukup menunggu 20 hari udah bisa beli tuh iPod Shuffle. Tapi kalo mahasiswa ITB Indonesia, harus menunggu 170 hari, atau mendekati setengah tahun.

2. Membaca

Membaca dilakukan oleh orang lintas usia dan generasi. Dari yang muda sampai tua. Yang mereka baca pun bermacam2. Contohnya adalah membaca iklan di kereta koran, buku, maupun brosur2 yang didapat di jalan. Bahkan saat berdiri pun mereka membaca. Jadi begitu masuk kereta, duduk (atau berdiri), buka tas, dan buka buku. Biasanya di dalamnya sudah ada pembatas buku yang menandakan di situlah mereka terakhir membaca. Nampaknya, budaya membaca memang sudah sangat mengakar bagi para penumpang kereta.

3. Membuka HP

Sama seperti membaca, membuka HP juga dilakukan oleh orang dengan berbagai macam usia. Kebanyakan sih memang anak-anak muda. Tapi tak jarang pula orang-orang tua yang memakai pakaian kerja membuka HP di atas kereta. Saya sering melirik orang di sebelah saya kalau mereka membuka HP. Penasaran. Kebanyakan orang yang saya lirik menulis SMS di atas kereta. Beberapa browsing internet, melihat video (streaming?), maen Sudoku, dan mendengarkan musik. Saya tidak pernah menemui orang yang mengambil gambar orang di depannya dengan diam-diam (pura2 buka HP, padahal mau ngambil foto). Ini tidak baik, mengganggu privasi orang 😀

4. Bermain games

Ada 2 mesin game portabel yang sering saya temui, yaitu Nintendo DS dan Sony PSP. Kalau bicara masalah kuantitas secara kualitatif (halah, bahasa opo iki), kebanyakan yang saya temui adalah Nintendo DS. Ini jelas mainannya anak muda, anak-anak usia SMA ke bawah. Sesekali saya melirik sebentar saja game apa yang mereka mainkan. Sayangnya, saya tidak bisa melihat dengan jelas (karena percuma juga, kalo ngelihat gak tau judul game-nya apa).

5. Diam (dan tidur)

Tidur adalah hal yang umum, namun tidak dengan diam. Saya tidak yakin mereka bisa menikmati tidur di atas kereta api, karena pasti dalam hati khawatir kalo kelewatan stasiun. Entah bagaimana cara mereka mengeset waktu tidurnya di atas kereta api supaya pas bangun di stasiun tujuan. Saya pernah mencoba tidur, dan kelewatan 3 stasiun langsung 😦 Tapi kalau sudah biasa, saya rasa tubuh akan membentuk semacam “jadwal”nya sendiri (teori ngawur) 😀

Kalau ada orang diam di atas kereta api, itu adalah saya. Saya masih bingung mau ngapain di atas kereta api. Kalau tidur, khawatir kelewatan. Main games dan buka HP nggak mungkin, karena nggak punya. Baca buku? Boleh, tapi rasanya masih aneh soalnya tanggung bener baca buku cuman beberapa menit (ah, alasan aja, bilang males aja susah :D).. Ndengerin musik? Kadang ngerasa ribet sama kabel handset yang panjang. Selain itu, bagi saya, orang yang ndengerin musik di tengah keramaian itu kurang baik, karena seakan-akan dunia milik berdua dia sendiri, cuek, nggak denger kan kalo ada yang minta tolong karena kemalingan. Hehehe… Jangan dianggap serius pendapat ini, hanya bercanda saja 😀 Saya sendiri kalau disuruh milih, mending ndengerin podcast di iPod daripada membaca..

Demikian…

23
Sep
07

Tokyo Tower, Temple, and Shibuya

Hari ini, saya bersama Hilda, Agus, dan Kanang (mahasiswa YSEP dari Thailand) jalan-jalan ke berbagai tempat di kota Tokyo. Setelah selama beberapa hari hanya menempuh perjalanan asrama-kampus-asrama, akhirnya ada kesempatan juga untuk jalan-jalan keluar. Saya tidak pintar berbasa-basi sebenarnya, jadi langsung saja saya mau cerita tentang perjalanan hari ini.

1. blablabla Temple (Imperial Palace)

Saya tidak hapal nama temple yang saya kunjungi ini. Hehehe… Bagi saya, nama tidak penting 😀 (padahal karena lupa aja).. Baiklah, memang nama tidak penting (anggap saja begitu). Perjalanan diawali dari stasiun dekat asrama, Aobadai, menuju ke salah satu stasiun paling terkenal di Jepang, Shibuya. Setelah dari Shibuya, saya lupa tadi naik apa. Hehehe… Gak niat banget sih 😀 Bukan, hanya saja, perjalanan kali ini diinisiasi oleh teman saya, Hilda, jadi dia yang tau jalan, saya hanya mengekor saja dari belakang.. Pokoknya, selain Shibuya, saya juga berhenti di stasiun Ginza, salah satu stasiun paling terkenal juga ya.

Setelah sampai di stasiun sebelum candi, sampailah saya dan teman-teman di candi tujuan pertama ini.. Oh ya, saya baru ingat. Sebenarnya bukan candi, tapi Imperial Palace Tokyo. Hehehe… Jadi, sampailah kami di Imperial Palace. Kami sempat kebingungan, tapi nampaknya, pemerintah Jepang sangat peduli terhadap orang2 seperti kami ini. Mereka menyediakan banyak peta di banyak tempat. Jadi kami sebagai orang yang kebingungan bisa mendapatkan sedikit pencerahan dari melihat peta (sedikit, karena tetap saja walaupun melihat peta kami nyasar ke lain tempat gara2 disorientasi arah)..

Sesampainya di Imperial Palace, seperti biasa, foto-foto tempat dulu. Di tempat ini banyak terdapat bangunan-bangunan klasik Jepang. Selain itu, pepohonan dan rerumputan yang hijau juga cukup banyak ditemui. Menarik sekali. Berikut beberapa gambar yang saya ambil.

2. Tokyo Tower

Harga tiket untuk naik ke ketinggian 145 meter (Main Observatory) di Tokyo Tower mahal juga, sekitar 820 yen. Pada ketinggian ini, tidak ada hal yang menarik sebenarnya, karena pemandangan ke dunia luar di bawah dihalangi oleh jaring-jaring yang gak jelas. Ini mengakibatkan saya tidak bisa mengambil foto dengan bagus. Hiks hiks.. Mau gimana lagi, kalo naik ke tingkat yang lebih tinggi harus bayar tambahan sekitar 600yen.

Berikut beberapa gambar yang saya ambil.

3. Shibuya

Wow.. Shibuya is the place for youngster!! Ada banyak sekali hiburan dan tempat-tempat menarik bagi para muda di sini. Mulai dari game, fashion, music, makanan, dsb dst.. Saya sendiri hanya bisa melihat-lihat, tidak bisa merasakan. Banyak sekali gedung dan bangunan tinggi pula. Sekali lagi, karena masalah waktu, saya tidak bisa naik ke setiap bangunan dan gedung yang ada. Tempat yang sempat saya masuki hanyalah sebuah Game Center, semacam TimeZone-nya sini. Ada 5 lantai, dan mainannya aneh2. Sekali lagi, hanya bisa melihat, tidak bisa mencoba karena harga setiap permainan sama seperti beli makan sekali. Hehehe… Berikut beberapa gambar yang sempat saya ambil.

Selain tempat-tempat di atas, saya juga sempat menemui beberapa hal yang menarik. Di bawah ini adalah gambar mobil yang sedang ditilang oleh polisi Jepang. Di bawahnya lagi adalah seorang bapak2 yang mengendarai sepeda di siang yang terik di tengah kota Tokyo. Terakhir, ada pameran mobil F1 di stasiun Tokyo.

18
Sep
07

Today’s Activity

Today, I did several things around O-okayama Campus.

1. Following Survival Japanese class for real beginner

Today is my first day for Survival Japanese class. I left my dorm to the station @ 7.45 , and arrived at campus @ 8.45 . It is also my first experience to go by train myself in a real working days. It is crowded, although it is not as crowded as I expected before. They said that in a real working days the train gets so crowded that you have to be pulled by the station’s police to go inside. I know that it’s true, and it’s just a matter of time before I have to face that condition. Hehehe…

The class was very interesting in the beginning. But, since it took about 3 hours, I suddenly felt a little boring in my last hour for this class. I learned how to introduce ourself to Japanese people, how to greet people, how to say your origin, how to say your major, etc.

Introducing yourself to people :
Hajimemashite . Reza desu. Indonesia kara kimashita. ITB no gakusee desu. Shenmon wa denshikogaaku desu. Doozo yoroshiku onegaishimasu. (How do you do. My name is Reza. I am from Indonesia. I am students in ITB. My major is Electrical Engineering. Pleased to meet you)..

2. Going to the Lab

Actually, I didn’t have any appointment before with my tutor, Hiroki san. But, when I walked around my lab, I met with Alim san, from Bangladesh. He is also member of my lab. I greeted him and followed him. Frankly speaking, I still didn’t have any courage to go alone to the lab, but today, after I went to the lab, I have that courage to go alone to my lab. Hehehe… Ah, I also practiced my Japanese word that I’ve just got before in Survival Japanese class. Their responses was very good. They smiled, and laughed, I don’t know whether it is because my bad Japanese or my courage to study Japanese 😀

This is the picture of my Japanese friends. They are 4th year computer science students who will continue to take their master course in the laboratory.

osaki kikkawa yuki

3. Meeting with Indonesian, and “Buka Puasa” together..

Mas Zalfany, Tokodai student from Indonesia, commented in my previous post. He said that if I wanted to meet Indonesian people, I could meet them @ “Buka Puasa” together. It takes place in small musolla @ Minami 3 (South 3) buliding. It is the same building like my laboratory. I was very happy to meet moslem people, especially from Indonesia. Thanks to Mas Zalfany for the information 🙂

4. Wandering around the campus

After Japanese class, and before I went to the lab, I wandered around O-okayama campus. I sat in some kind of sitting area (?) under the cherry blossom trees. The trees will be very beautiful in the spring (Hanami?)..

cherry trees

17
Sep
07

Sands and Hands

Imagine that you hold a fair amount of sands in your hand rite now. Its smallest particle is so small that it is very hard for you to separate only “one” of them. Let it be about 1000 particles of sands in your hand. You hold it tightly, you will lose each one of them slowly. You open your hands, you don’t hold it rite, you will also lose it because of the wind that blows out strongly.

It is hard. But if you are given the responsibility to hold that sands, hold it right. Hold it smoothly, not that tight, not that open.. Once you lose it because of your carelessness, you will absolutely regret it for life maybe. But, in contrast, if you have it right, and you still lose it, it means it is not about you anymore. It is about the sands. It is about the sands who want to set them free from your grasp.

17
Sep
07

Gourmet City

Today, I wandered around my dormitory once again. I am still curious about several things like where can I buy cheap food here ;p Up until now, I bought food only from 4 stores. They are Family Mart (it sells bento ranging from 300-600 Yen), Shop 99 (where we can find a lot of things for 99 yen + 5 yen for the tax ), Seven Eleven (actually more expensive than Shop 99, but they sell a good variety of bento), and from the students cafetaria @ O-okayama campus.

But hey, today, I found a very good store here near Fujgaoka Station. It is Gourmet City. It is the fact that they sell discounted food that makes it very special for poor student like me. The food that is going to be out-of-date will be discounted until 50 percent. The way that the shop does this “discounting” is very interesting. Let me tell you..

As long as I see, the bento that is offered here is expired for 2 days at maximum.. So, if you buy bento today, the average expiry date for the bento is late at night for the same day. There may be some of them which will be expired in the next day though, but you will find them later in the evening of the day (the shopkeeper will put them). Usually, in the evening, the bento that will be expired in the late night is discounted. For the case that I see in Gourmet City, the shopkeeper do the discounting in the progressive way.

First, they will put a “10 %” label. And then, for the next few hours, they will put “20 %” label there. And they do it continually until it reaches the maximum allowable discount for that food. Today, I bought a bento that is discounted until 50 percent. It means, few hours before I bought this bento, this bento was discounted for 10,20,30 percent..

Hah.. It is a good thing. But the bad thing is, to get that cheap food, we have to come late in the evening. The later you come, the more discount you have.. It is the fact that Gourmet City is far from my dormitory that makes me sad.. But it is okay.. I am very happy that I could find this store today.

15
Sep
07

Apartment Near Aobadai-eki

A typical Japanese Apartment near Aobadai-eki..

apartment dekat aobadai-eki