Archive for the 'Social Eng.' Category

18
Jan
08

Pemilu AS

Diawali dengan rasa penasaran ketika ada seseorang yang berkata tentang primary dan caucus, saya mencoba mencari tahu tentang kondisi politik di AS memasuki masa Pemilihan Umum a.k.a. Presidential Election 2008. Cukup menarik juga,karena dengan mengikuti perkembangan politik Pemilu AS sama saja mempelajari tipe-tipe calon presiden yang dalam beberapa tahun ke depan akan mempengaruhi dunia.

Tidak seperti di Indonesia yang memiliki puluhan partai dalam Pemilunya, di AS hanya ada dua kutub politik, yakni Demokrat dan Republik. Kedua partai ini mempunyai roadmap yang berbeda. Setiap kutub mempunyai beberapa calon presiden, yang akan diuji melalui berbagai debat, primary, dan caucus di seluruh negara bagian US. Paham yang mereka punya juga berbeda. Ada beberapa perbedaan yang cukup signifikan dalam sikap politik kedua kutub tersebut, di antaranya yang berkaitan dengan hukum aborsi, hukum kepemilikan senjata api, tentang kesehatan, tarif pajak, dsb.

Sekarang ini, di partai Demokrat, topik yang sedang ramai dibicarakan adalah mengenai persaingan Barack Obama dan Hillary Clinton. Nama Hillary Clinton bagi kita mungkin lebih familiar, karena tentu saja mengingatkan kita pada sosok presiden AS beberapa tahun sebelumnya, yaitu Bill Clinton. Namun, di Indonesia, nama Barack Obama juga tak kalah populer. Ini disebabkan oleh sejarah si Barack Obama yang pernah tinggal selama beberapa tahun di Indonesia semasa kecilnya. Tentu saja ini menjadi topik yang cukup “menjual”, sampai-sampai di Indonesia keluar buku yang berjudul “Menerjang Harapan: Dari Jakarta Menuju Gedung Putih”. Judul yang mengundang minat, walaupun tak sepenuhnya mengena.

Saya pikir, tinggal selama beberapa tahun di Indonesia saat si Barack masih kecil dulu bukanlah suatu hal yang besar, atau penting, bagi seorang Barack Obama. Apalagi, mengingat ini Indonesia, negara dengan populasi muslim terbesar di Indonesia. Hal-hal yang berkaitan dengan Islam tentu saja akan menjadi isu panas yang bisa digunakan oleh lawan politik Barack Obama untuk sekedar mempertanyakan hal-hal seperti, apakah si Barack pernah memeluk agama Islam semasa dia kecil dulu?

Barack Obama memang tidak hanya menarik bagi Indonesia. Bagi warga AS sendiri, munculnya calon yang berkulit hitam tentu akan sangat menarik untuk diperbincangkan. Sementara Hillary Clinton, sejarah masa lalunya yang aktif dalam berbagai kegiatan presidensial, ataupun kegiatan sosial yang banyak dia ikuti, tentu akan menjadi poin yang cukup signifikan baginya untuk menarik perhatian publik.

Saya tidak terlalu tertarik dengan calon presiden dari kalangan Republikan. Terutama karena saya nggak tau mereka siapa πŸ˜€ Cukup menarik juga mengikuti perkembangan kedua calon presiden dari Demokrat ini. Barack Obama vs Hillary Clinton. Penasaran siapa yang akan menang nantinya..

Oh ya, selain itu, lagi kagum sama liputan dunia web tentang pemilu AS. Youtube pun sampai membuka channel khusus bagi kita untuk mengikuti perkembangan setiap calon presiden. CNN, tentu saja menyediakan porsi halaman khusus untuk meliput tentang pemilu AS ini. Hmm… Kira-kira, untuk Pemilu Presiden 2009, situs-situs macam Video.ARC (maaf, hanya kalangan internal mahasiswa ITB yang tahu) akan meliput para capres gak ya πŸ˜€ Atau mungkin KPU nyediain dana khusus untuk bikin portal capres, dimana user bisa komen, kasih feedback, saran, protes, apapun, lewat portal itu… Mengingat sekarang internet sudah begitu mewabah di Indonesia, setidaknya dengan indikasi fenomena blogging yang semakin marak di setiap kalangan, publikasi yang sampai menjangkau dunia internet akan sangat disambut baik oleh para netters. Hehehe… Just my opinion after all πŸ˜€

Iklan
27
Nov
07

Membaca

Membaca. Kita semua selalu membaca setiap hari. Secara tidak sadar, saat kita melihat tulisan (yang kita tahu bahasanya), hati mengartikan itu sebagai rangkaian huruf yang langsung terbaca oleh mata dan otak kita.

Hanya saja, memori kita terbatas. Ada kalanya kita tidak perlu membaca beberapa bagian yang tidak penting, agar kita tidak mengingatnya dan memasukkannya dalam memori kita. Apa ini artinya kita harus menutup mata saat berjalan sehingga tidak melihat papan-papan iklan dan pengumuman yang berseliweran?

Tidak begitu.. Ini berkaitan dengan arus informasi yang melaju dengan cepat tanpa batas. Kita berada di lingkungan dimana informasi dan berita datang dengan tingkat akselerasi yang meningkat setiap waktunya. Apabila anda terkoneksi ke internet selama 1/3 waktu hidup anda dalam sehari, akan sangat terasa efek dari banjir informasi ini.

Ada kalanya, informasi yang terbaca oleh kita terlalu diverse dan bermacam-macam topiknya. Ini yang susah. Apabila kita membaca artikel-artikel dengan topik yang sama sekaligus, mungkin kita masih bisa mengingat sebagian besar isinya, karena kita bisa mengaitkannya satu sama lain. Namun apabila informasi itu terlalu divergen, susah untuk mencari benang merahnya, sehingga keesokan harinya, kebanyakan dari apa yang kita baca kemarin kita lupakan dengan sendirinya (bahkan kita mungkin tidak sadar kita sudah melupakannya).

Saya jadi ingat, semakin banyak hal yang kita ketahui dan pelajari, kita akan semakin sadar bahwa kita belum tahu apa-apa. Lucu aja kalo ternyata itu diartikan sebagai kita terlalu banyak belajar dan membaca, sehingga kita juga lebih banyak lupa, dan akhirnya memang kita semakin tidak tahu apa2. Guyonan mahasiswa, kalo udah mau ujian, mending jangan belajar, biar gak lupa πŸ˜€

Yang di atas barusan itu selingan saja. Intinya, ada baiknya kita memilah-milah informasi apa saja yang akan kita baca. Pada dasarnya, jangan sampai saat kita membaca sesuatu, informasi yang kita baca itu jadi percuma, karena hilang keesokan harinya dari memori kita. Kalo kita senang membaca, mungkin ada baiknya diikuti dengan menulis, karena dengan begitu kita bisa mendokumentasikan apa yang kita baca, dan jaga-jaga sebagai backup kalo di lain kesempatan kita lupa.

Saya sendiri, sudah terlalu banyak membaca artikel-artikel gak jelas di internet, yang kebanyakan, di keesokan harinya saya lupakan. Nampaknya, harus belajar bagaimana cara membaca yang efektif dan mendokumentasikannya dalam tulisan πŸ˜€

30
Okt
07

About:Smile

Quote of this day.. Taken from Desperate Housewives Season 4 Episode 2..

There is nothing more deceptive than a smile..
And no one knows this better than the people who hide behind them..
Some flash their teeth as a polite warning to their enemies..
Some put on beaming faces to keep their tears from falling..
Others wear silly grins to mask their fears..

But then there is that rare smile that is actually genuine..
It is a smile of the person who knows his trouble will soon be over..

What I like from this TV-series is when it comes to the end of the episode, there is this unique-narrator who always conclude the story into one beautifully-arranged sentences which in many ways, impress me a lot…

Some flash their teeth as a polite warning to their enemies.

Yeah, it occurs in many events. You have to attend a party, which, at the same time, forces you to meet your enemies. The host wants to make a closing photo for the party, of course, letting you and your enemies in altogether. You smile, your enemies smile, and then you finally have to face each other with that smile in your lips.. Yes, what can be told except that both of you will lead that smile to “warn” each other, pretending to smile, but deep inside you may be saying horrible things to them..

Some put on beaming faces to keep their tears from falling..

You visit your dearest friends. He is sick. But, as a matter of visiting-sick-people rules, you have to keep on smiling. Let the sick people share your happiness for a while. Yet, deep inside your heart, you cry for that moment..

Others wear silly grins to mask their fears..

Have you ever got the feeling that you are so damn screwed out with all the stuff you did lately, and still, you have to keep smiling? What result in it will be that silly-ugly smile covering your faces..

But then there is that rare smile that is actually genuine..
It is a smile of the person who knows his trouble will soon be over..

Genuine!
Smile will release our relief for sure after knowing that all the troubles which surrounded us lately will be over soon..

21
Okt
07

Hippo Family Homestay

Yeah, it was such a long time since my last post here. Today, I want to write something because I just had my “happiest moment” in Japan. It was a one night homestay with HIPPO Family. Just see the picture below for the detail. I will write something related with the picture that I took. I regret it very much that I didn’t take many photo, especially in the Welcome Party. What a pity…

ookayama picture with hippo

This photo was taken under the cherry-blossom-tree-wannabe (some trees that will be transformed to the beautiful Sakura in Spring) in front of the Honkan, or Main Building, in Tokyo Tech O-okayama Campus. Look, they all smiled happily because of me. The girl sitting in my left side was Mirei, and the girl who sat in the left of the girl who sat in my left side (Ah, it was so hard to say, sorry… Hehehehe…), was Reina. Both of them are the children of Kaneda San’s Family (you will see more pictures of them later in this post), which was my destined family homestay at the moment. In my own opinion, all of the woman here were very beautiful. Some of them were still young though I think (at least from their appearance).

mirei reina

This photo was taken inside Kaneda Family’s house. They are Reina (left) and Mirei (right). Kawaii desu ne?

welcome party

This was the only photo that I took together with the HIPPO Club. I _totally_ regret it. Actually, they took photo of me (with some other family) all the time that nite, of course with their own camera. Ah… Someday, I hope, hontou ni, that they will give me the photos..

family kaneda children

I like this photo, because it was consisted of all the Kaneda Family’s children. Look, Reina was a very active girl. She moved all the time. Maybe, if I can speak Japanese well, I could explore many things. The boy in my left side was Keigo. He was 14 years old and now he pursued to continue into high school with good reputation in soccer. He likes soccer. I played WE 10 with him several times, and he was a very good player. I only won once, and the rest, he won the game. I said to him, “Watashi wa WE 0 benkyou shimasu.”. Next time, if I visit his house again, I will definitely win. Hehehe…

kaneda family

This was the complete photo of Kaneda Family (excluding me). It was taken before we left the house to Takao Mountain in Hachioji.

map

This was the map of Takao Mountain. Hiroi desu ne.. Dakara, we need a map so that we won’t walk in the wrong direction. There were so many interesting places spread in this mountain and I think we can not finish to explore them all in just one day. It was just too big.

chair lift

This was taken when we use the “Chair Lift” (it was some kind of “flying” chair that will lift us to the top of the mountain). Omoshiroi desu ne..

top mountain

This was taken in the top of the Takao Mountain. I don’t have anything to say though beside that. Seems like Reina do that “hand-style-OK” as what I did in the several photos before. Nice!

sushi conveyor

Some of you who are Japanese Dorama freak absolutely know this photo. Yeah, it is a conveyor belt style sushi where you can take each plate directly (and they will count it in the end how much plate that you eat, recording to the color of the plate). However, this time, we visited the 105 yen style sushi, so all the sushi’s price are flat.

sushi

Kanpai!! It was the last photo that I took with Kaneda Family. Chiizu!!

You will definitely realize that in the end I put so many photos of me here. Yeah, actually, I don’t like to take my own photo. But, someone requested to me the other day that I should take more photo.. Yeah, I did it. Next time, I will post something about the food (sushi) and the scenery in Takao Mountain.

That’s all. And I wanna say my greatest thank you to Kaneda Family for this unforgettable memory while I was here in Japan.

γ©γ†γ‚‚γ‚γ‚ŠγŒγ¨γ†γ”γ–γ„γΎγ—γŸ !

17
Sep
07

Sands and Hands

Imagine that you hold a fair amount of sands in your hand rite now. Its smallest particle is so small that it is very hard for you to separate only “one” of them. Let it be about 1000 particles of sands in your hand. You hold it tightly, you will lose each one of them slowly. You open your hands, you don’t hold it rite, you will also lose it because of the wind that blows out strongly.

It is hard. But if you are given the responsibility to hold that sands, hold it right. Hold it smoothly, not that tight, not that open.. Once you lose it because of your carelessness, you will absolutely regret it for life maybe. But, in contrast, if you have it right, and you still lose it, it means it is not about you anymore. It is about the sands. It is about the sands who want to set them free from your grasp.

02
Jul
07

Realita vs Keinginan

Realita dan keinginan kita terkadang berjalan paralel. Seperti sebuah garis yang membentuk sudut nol derajat. Lurus, dan tak akan berpotongan. Seperti sebuah fungsi yang gradiennya sama namun dengan titik potong sumbu X atau Y yang berbeda, mereka tak akan saling menyentuh.

Dalam hidup, kita tentu banyak berharap. Banyak merencanakan dan ingin melakukan berbagai hal yang ideal. Namun nyatanya, di akhir kita sering hanya bisa tersenyum kecut melihat kenyataan bahwa apa yang kita harap dan rencanakan ternyata tak ada yang terwujud.

Sebagian dari kita beruntung, karena mempunyai hati yang lebih “lapang dada” dibandingkan yang lain. Bagi orang seperti ini, paralelnya realita dan keinginan tentu hanya sebentar saja menjadi masalah. Mereka kemudian tersadar bahwa ada kekuatan lain di dunia ini yang merencanakan semuanya. Bahkan fakta bahwa mereka mempunyai rencana akan sesuatu pun sudah terencanakan oleh-Nya. Oleh Allah SWT.

Namun bagi sebagian yang lain, fakta bahwa realita mereka ternyata tidak sesuai dengan keinginan akan membuat stress. Membuat mereka terbebani dan kepikiran. Bagi mereka, hal ini akan menimbulkan kekecewaan, rasa menyesal, dan pertanyaan yang mungkin tak ada yang bisa menjawab. Misterius. Kita mungkin bagian dari orang-orang ini. Termenung saat apa yang kita harapkan tak terjadi. Menangis saat realita ternyata berbicara terlalu kejam dengan kita. Andaipun kita bisa tersenyum, senyum yang keluar dari dua bibir kita hanyalah sebentuk senyum kecut. Senyum yang kita tampakkan hanya untuk menyembunyikan kesedihan yang mendalam.

Begitulah. Memang tak selamanya keinginan tak berpotongan dengan realita. Tapi saat kita dihadapkan pada kenyataan tersebut, ada baiknya kita merenungkan sejenak, dan berusaha untuk bergabung dengan golongan orang pertama, golongan orang-orang yang lapang dada. Semoga.

28
Jun
07

Know Your Audience

Ketahuilah penontonmu. Ketahuilah pasarmu. Ketahuilah lawan bicaramu.

Sebuah ungkapan yang cukup berguna dalam menjalin interaksi dengan orang, terutama yang berkaitan dengan proses bisnis, presentasi, dan komunikasi inter personal yang spesifik. Dalam contoh kasus yang akan saya bahas kali ini adalah yang berkaitan dengan presentasi.

Know your audience!
Saat kita melakukan presentasi, kita menyampaikan ide ke orang lain. Kita bercerita tentang hal-hal, bisa baru bisa lama, ke orang lain. Dan adalah tugas kita untuk membuat penonton mengerti tentang apa yang kita sampaikan. Maka dari itu, ada baiknya sebelum kita presentasi terlebih dahulu kita analisis, kepada siapakah kita nantinya akan melakukan presentasi. Perlu dilakukan sebuah tinjauan tentang latar belakang pendidikan mereka, posisi mereka (apabila kita presentasi di perusahaan), serta bila memungkinkan kita harus tahu tentang ekspektasi mereka akan presentasi kita.

Kesalahan dalam menganalisis audience akan berpengaruh besar saat kita presentasi nantinya. Perasaan yang harus kita perhatikan bukan kemampuan kita pribadi (apakah kita kesulitan dalam memahami materi, apakah kita terlalu mudah dalam membuat presentasi, dsb), namun kemampuan mereka, penonton. Inilah yang susah.

Akibat yang paling buruk adalah nampak bodohnya kita di depan audience saat presentasi. Ini terjadi apabila kita miskalkulasi tentang “kemampuan” audience. Kita anggap bahwa audiens berada pada level 5, dan kita beri presentasi yang level 6(supaya tidak dianggap terlalu meremehkan), namun ternyata di luar dugaan audiens berada pada level 7. Level itu sendiri bisa dibagi berdasar level “keilmuan”, dan level “keingintahuan”. Level keingintahuan yang tinggi bisa menjadi bumerang bagi kita karena kita bakal diberondong pertanyaan-pertanyaan yang simpel-simpel namun menjebak (terkadang kita mengerti konsep yang tinggi, namun konsep detail yang kecil-kecil dilupakan). Level keilmuan yang tinggi tentunya bermasalah apabila kita sok tahu dan terlalu banyak omong tanpa bukti. Kita bisa dikritisi dan dihabisi saat itu juga.

Solusinya adalah kita harus membuat presentasi yang tepat untuk orang yang tepat. Kita lakukan analisis yang tepat (ini tentunya butuh pengalaman dan pembelajaran yang tidak singkat). Kita buat slide presentasi yang tepat dan efektif tidak bertele-tele dan justru membunuh kita karena kita terlalu banyak menaruh istilah di dalam slide itu. Kita juga perlu mempersiapkan sebelumnya tentang bagaimana kita harus presentasi nantinya. Untuk beberapa orang yang sudah pengalaman, proses-proses di atas dapat dilakukan dengan cepat. Bahkan mungkin tidak perlu persiapan yang terlalu mendetail apabila sudah biasa.

Demikianlah. Memang presentasi itu penting, dan belajar untuk mempresentasikan ide itu juga penting. Mari kita belajar bersama untuk melaksanakan presentasi yang tepat dan efektif.