25
Apr
08

Tulisan bebas

Maka mereka pun pergi dari tempat itu. Padahal di sana beberapa orang masih merintih menahan lapar dan haus. Orang-orang itu berteriak, memanggil sekelompok orang yang dengan angkuh meninggalkan komunitasnya. Tapi bukan orang angkuh namanya kalau dipanggil kemudian menoleh bukan. Koreksi, dipanggil oleh orang yang lebih ‘rendah’ posisinya. Tentu saja, kalau misal yang manggil seorang presiden, orang-orang ini pasti akan dengan sigap membalikkan tubuhnya dan membungkuk hormat, menyunggingkan senyum licik di bibir mereka.

Masalahnya adalah, rintihan lapar dan haus itu bukan dari orang asing. Mereka adalah sahabat-sahabat orang angkuh ini. Sahabat terdekat, yang dulunya merintis jalan menuju Roma bersama-sama, mencari kesuksesan. Begitu naifkah mereka sehingga pengalaman pahit yang dulu mereka jalani bersama orang-orang itu di tepi sungai, memancing ikan untuk makanan selama beberapa hari ke depan, mencuci baju di malam hari karena harus menghindari pantauan satpol PP (ada tidaknya satpol PP di kota Roma diragukan kebenarannya) yang sepanjang siang bersliweran di atas bukit, tidur di bawah temaram malam, bahkan terkadang harus berlarian ke sana kemari karena tenda mereka tertiup angin yang kencang di malam hari, semua menjadi tak berbekas sama sekali di hati mereka.

Percuma saja dulu membangun mimpi bersama kalau hasilnya harus dikhianati begini bukan. Bukankah inti dari kebersamaan dalam menggapai mimpi adalah saling bahu membahu, membantu satu sama lain untuk bersama menuju puncak (ini bukan AFI). Walaupun tak bisa dipungkiri, kemampuan setiap manusia berbeda, sehingga pada satu waktu tentu saja ada orang yang lebih duluan mencapai puncak, sementara yang lain masih saja memandang ke atas dan berjuang.

Yah, namun pada akhirnya, memang begitulah hidup.


3 Tanggapan ke “Tulisan bebas”


  1. 1 ariewibowo165
    April 25, 2008 pukul 9:48 pm

    wah…terima kasih buat kommennya Pak. Sukses ya di Jepang.
    Baru bulan ini saya mulai ngeblog. Ternyata seru juga ya. iya nie, saya sedang mencoba untuk belajar juga. hehehe, biar bisa ke Jepang kayak sampeyan. Amien.. Sukses ya pak. enak euy ada salju beneran. di sini baru adanya es serut..kekeke.
    Hope you all d best bro..

  2. 2 kitkot lotibol
    April 26, 2008 pukul 7:04 am

    apakah berarti hidup itu kejam…tidak …hidup memang harus disiasati dan sedikitlah berbuat “licik”…

  3. Oktober 5, 2009 pukul 12:48 am

    menjalani hidup tidak harus melibatkan sifat licik, justru karna sifat/siasat yang licik kita di persulit. karna bagian dari keinginan licik merupakan awal dari penderitaan atau kesusahan, disadari ato tanpa disadari. sedikit ato banyak tetap jauh dari kajujuran!tanpa harus melibatkan sifat licik hidup akan terus mengalir menjalani segala takdir nya menempuh bunga-bunga dari kehidupan.dan dengan sifat licik justru hidup akan berubah menjadi kejam bagi yang menerima siasat anda.


Tinggalkan Balasan