Sedikit saja kusentuh bajunya, dia menoleh dan memandangiku heran. Padahal saya tak sengaja lho, lagipula bukan sentuhan langsung juga, melainkan sentuhan antar lengan baju kami. Sekian menit kemudian, lha kok kaki saya ini tiba-tiba gatel, ya otomatis tho aku gerakkan satu kaki di atas kaki yang lain (maksud hati menggaruk, apa daya sepatu masih terpakai, jadi gak puas garukannya). Eh pas kaki kanan kembali ke tempat, lagi-lagi aku menyentuh dirinya, kali ini sepatunya. Hiks, ditoleh lagi deh.
Sudahlah, lebih baik diam di tempat. Saya pun mengeluarkan iPod dari tas, mendengarkan lagu rock terbaru dari Dream Theater. Lagi suka sama album Systematic Chaos, mengingatkan saya atas album masterpiece dari DT (bukan Daarut Tauhid) yang lain, Scenes from a Memory. Eh, lha ya kok udah berusaha diem si orang itu tetep noleh. Mungkin karena volume iPod saya terlalu keras (padahal menurut saya sih tidak). Saya curiga pergerakan tangan dan badan saya dalam memasang dan mengambil iPod terlalu banyak. Oke lah, saya kecilkan sekarang. Ambil aman.
Nampaknya suasana sudah mulai tenang. Si orang itu tidak menoleh-noleh ke saya lagi. Malahan dia sekarang keliatan tidur sambil berdiri. Dalam hati saya heran, kok bisa ya. Tiba-tiba, hape saya di dalam tas bergetar. Terpaksa saya harus mengeceknya, tentu saja dengan membuka tas terlebih dahulu. Maklum, ini bukan tas mahal yang dibeli di depato-depato yang ada di Ginza, jadi ritsletingnya bersuara dengan nyaring ketika saya gerakkan. Dan bisa ditebak kan, si orang ini tiba-tiba bangun dan OMG, lagi-lagi menoleh ke saya. Sudah kebanyakan merasa ngganggu dia, keluarlah kata sakti itu, “Sumimasen“, yang artinya “maaf”.
Di stasiun Saginuma, orang yang duduk di depan saya berdiri dan keluar dari kereta. Tentu saja ini kesempatan emas bagi saya, untuk duduk dan tentu saja, tidur. Dan duduklah saya. Duduk pun susah. Terkadang space begitu sempit sehingga susah bagi kita untuk duduk. Dan melihat pengalaman pada paragraf pertama, saya harus menghindari menyentuh selembar benang pun dari pakaian orang-orang yang ada di sekitar saya. Apalagi beberapa dari mereka tidur.
Dan… Itu susah. Spacenya begitu sempit, mau tak mau saya harus menyenggol lagi-lagi lengan baju seseorang. Orangnya pun bangun, dan, itulah baiknya orang yang udah tidur dan kecapekan, mereka tidak menoleh, melainkan melanjutkan tidur kembali. Aman. Duduk udah tenang, tas di pangkuan, kantuk pun datang menghadang. Dan tidurlah saya. Eh, sebelum saya tidur, saya sempat menoleh ke orang yang dari tadi nolehin saya itu. Dia tetep aja ngeliatin saya. Ah, mungkin dia iri saya bisa tidur sambil duduk, sementara dia harus tidur sambil berdiri.
Yah, begitulah hidup di kereta ![]()




lha ming tolah toleh ae kok ditulis nang blog, sing nolehi kowe lanang , wedok , tuwo opo enom
tambahai omongan he”’he””he
lanang po wedok rez?? lek wedok sikat ae rez… :p
pernah ngalamin , dan ingin melupakan
soalnya suka sensi salah mengerti dan suka geer
apa liat-liat…!
gitu lho rez, mosok gak wani…
Belum pernah liat orang Jawa di Jepang kayaknya..
Mungkin orangnya gak mudheng “sumimasen”..
Coba katakan, “Nuwun sewu..”
Saya gak gitu ngerti..
Space sempit, saya rasa wajar dmn aja, d belahan bumi mn pun, klo orang senggol-senggolan. Masa’ disenggol aja kaya’ gmn gtu…
Tape dech…
*org jepun gitu yaa…
*
@hyorinmaru
hehehe… anda tepat. space sempit dimana2, orang senggol2an dimana2, dan orang toleh2an juga dimana2.
orang jepang mungkin karena terlalu sensitif, jadi tidak mau diganggu dan mengganggu orang lain, termasuk untuk urusan kecil2 begitu. akibatnya, sebaliknya, kalo kita disenggol oleh mereka, walaupun sedikit aja, mereka sampe bilang “sumimasen”/maaf, yang untuk beberapa kondisi kita rasa gak perlu (kan biasa tho senggol2an di tempat rame).
itu sebenernya yang pengen saya sampein dari cerita ini, tapi kok kayaknya jadi berlainan maksud ya
@ reditya:
]
Owh, gitu… “terlalu sensitip”
Ya ya…
Mereka tipe yang sangat ego centric, IMO.
Memberatkan sisi/aspek internal, keinginan diri mereka, mengabaikan (atau gak sadar) ama sikon lingkungan [tempat sempit, misal; tempat sempit kan bukan atas keinginan siapa pun tho
Ah, lain lubuk emang lain ikannya…
mesti hapal kata sakti “sumimasen” berarti ya klo ke Jepang..
yah, klo pas lupa + nyenggol orang, ga ada salahnya keknya bilang “ganbate kudasai”..